Rabu, 18 Juni 2014
Wait for a comment
Cerpen
A Hug For A Love
Oleh : Z. Okta
Aku menatap wajah cantik itu. Bibir nya yang halus. Matanya yang tidak terlalu sipit juga tidak terlalu lebar. Tulang pipinya yang ramping. Dagu yang kecil. Dan bola mata coklat yang hangat. "Champagne, please"
"Sejak kapan kau minum itu, Clara?" Heran. Cepat sekali pelayanan di bar ini. Aku mengambil gelas ketiga nya. Sebelum ia menghabiskannya lagi. "You’d be drunk, Clara"
"Apa pedulimu? Satu jam, oh tidak. Lima menit setelah kita berpisah nanti saja, kau pasti sudah berjalan lagi dengan wanita yang baru kau temui di jalan. Jadi jangan pedulikan aku. Kau, urus saja hidupmu sendiri."
"Clara, aku sudah menjelaskan padamu alasannya. Aku tidak suka terikat."
"Itu hanya alasan konyol mu." Aku menggenggam tangan nya dan berusaha mengatakan sesuatu tapi tidak bisa. Tidak akan bisa. Ia sudah pergi meninggalkanku.
©©©
Aku datang 15 menit lebih awal dari jam perjanjian yang kami jadwalkan. Pukul 11 siang di sebuah café dengan suasana yang mirip sekali dengan suasana pantai di Bali ini. Cozy, hangat dan elegan. Saat ini Swiss Army ku menunjukkan pukul 10.45. Aku teringat percakapan kami dua hari yang lalu di telepon.
"Oh hai Andrew. Ada apa mencariku? Apa kau berubah pikiran dan mulai menyesal karena mencapakkanku?" Ia mencecar dan membuat ku harus berbasa basi. Ia berhasil memojokkanku.
"Aku butuh bantuanmu, Jessie."
Sesaat tidak terdengar suara apapun.
"Aku sedang sibuk, Andrew sayang. Tolong jangan buang waktuku dengan bualanmu yang sudah sering ku dengar itu. Aku sudah pernah mendengar nya dulu. Dulu sekali."
"Aku serius, Jess. Aku sangat membutuhkan bantuanmu."
"Baiklah kalau kau memaksa. Pukul 11 di tempat biasa. Ingat Andrew. Pukul 11. Jika kau datang terlambat seperti biasa, akan ku pastikan kau menyesal."
Telepon ditutup.
Jessie juga salah satu teman wanitaku. Kami sering berjalan bersama. Tapi, tak ada ikatan khusus diantara kami. Dengan teman wanita ku yang lain pun sama. Aku memang tidak menginginkan sebuah ikatan yang serius. Aku masih ingin menikmati kebebasanku. Tapi kenapa aku selalu dianggap playboy?
©©©
Penerbangan menuju Bali berjalan lancar. Bandara nya selalu penuh. Jessie sudah mengatur semuanya. Ia seseorang yang professional. Terbiasa menyiapkan banyak hal detail dalam waktu singkat.
"Kau tidak perlu memikirkan apapun. Aku akan menanggung semua keperluanmu selama disana." aku tak perlu meragukannya. Ia memang orang yang sangat bisa diandalkan.
"Kau pasti Andrew." Ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Kelihatannya ia sudah lama menungguku. "Ayo ikut aku. Selama kau tinggal disini, aku akan menjadi pemandumu." Ia tersenyum. Senyuman paling tulus yang pernah ku lihat. Aku tersihir. Aku melihat banyak hal yang tak pernah ku lihat pada gadis manapun saat melihatnya. Ia berbeda.
"Jessie sudah bicara denganku. Selama kau disini, kau akan tinggal denganku. Aku punya satu kamar kosong yang masih rapi." Ia tersenyum. Lesung pipinya membuatku mati gaya. Ia manis sekali.
"Ingat, Andrew. Kau tidak boleh jatuh cinta padanya." Uh sial. Kalimat itu lagi.
"Hei, ada apa? Kau melamun." Aku mengerjap. Ia benar. Aku melamun.
"Maaf, kau belum menyebutkan namamu." Bola matanya membesar. "Benarkah? Maaf aku terlalu senang mendapat teman baru. Namaku Susan" Ia tersenyum lagi. Hatiku menciut. ”Oh, salam kenal, Susan.“
©©©
"Ingat, Andrew. Kau hanya bertugas menemaninya. Nama nya Susan. Sesuai kontrak. Jika kau melanggar aturan yang ku buat, aku tidak akan membayarmu. Satu rupiah pun. Aku tidak peduli dengan tagihan tempat tinggalmu atau biaya bulananmu yang menumpuk. Kalau kau tidak mematuhi aturan, kau akan menyesal."
Ya, aku ingat Jess.
Ini memang salahku. Aku mengambil keputusan terlalu terburu buru hingga muncullah semua kebodohan ini. Aku kehilangan pekerjaan, tagihan listrik, telepon, dan biaya hidup tiga bulan terakhir ini berantakan. Ku pikir aku bisa percaya pada Trista. Ia orang yang ku percaya untuk mengurus bisnis ku. Aku terlanjur percaya pada laporannya bahwa keuntunganku melonjak tiga kali lipat dan aku segera memutuskan untuk mengundurkan diri. Tapi ternyata, semua nya palsu. Yang ada justru pengeluaran yang membengkak, dan keuntungan nol persen. Aku bangkrut.
Dan Jessie, adalah satu satunya orang yang bisa ku percaya untuk membantuku. Ia memberiku pekerjaan paruh waktu ini. A Hug Service.
Aku memang pernah mendengar pekerjaan ini, tapi aku tidak menyangka Jessie akan memberiku pekerjaan ini. Aku bahkan tidak tahu apa aku bisa memeluk orang yang sama sekali tidak ku kenal. Sekaligus menghiburnya. Menjadi temannya. Di Jepang, semacam penyewaan teman untuk kencan.
"Hai Andrew. Kau mau makan malam bersamaku?
Entah, tapi akan ku coba. "Tentu saja, Susan."
©©©
Dia seorang model yang sangat cantik dan bersemangat. Selain yoga, ia juga mengikuti olahraga aikido. Aku tahu banyak hal tentang nya dari Jessie. Aku pernah melihat foto Susan yang tengah yoga dengan satu tangan di lantai sedangkan anggota tubuh nya terangkat ke atas. Sempurna lurus. Lalu fotonya yang lain saat sedang ikut dalam kejuaraan aikido bersama senior nya. Tapi ada sesuatu yang membuatku bingung. Kenapa Jessie mengirimku ke tempatnya? Ia terlihat baik baik saja. Sama sekali tak terlihat ada masalah apapun. Ia terlihat, bahagia. Kadang, malah ia yang menghiburku dengan senyum nya yang hangat atau sup panas nya yang nikmat.
©©©
"Arrrghhh... Penjahat... Arrrgggghhhh....."
Hum? Penjahat? Disini?
"Siapa kau?" Sergapnya. Ia mengacungkan stik golf ke arahku. Dari mana ia mendapat benda itu? "Jawab aku, penjahat. Dari mana kau masuk?" Apa? Barusan dia memanggilku penjahat? Apakah wajahku berubah jadi seperti orang jahat? "Aku Andrew, Susan. Dan kita berteman. Kau mengizinkan ku tinggal disini, bersamamu." Matanya lagi lagi melotot lebar seakan melihat penjahat kelas kakap di rumahnya. Ia bahkan masih mengacungkan stik golf itu padaku.
"Aku sama sekali tidak ingat. Yang aku tahu, tidak ada penjahat yang jujur. Sebaiknya kau jelaskan saja di kantor polisi."
"Apa?"
Terdengar suara mobil polisi di bawah sana. Ada apa ini? Kenapa dia…..
©©©
"Jadi, dia memiliki gangguan jiwa?" Dengan malas aku menanggapi Jessie yang berbicara di telepon. Kenapa ia tidak menjelaskannya sejak awal? "Bukan, Andrew. Hanya semacam masalah kepribadian. Dia trauma. Dia jadi orang yang ku kenal di beberapa waktu dan kemudian menjadi orang lain di waktu yang lain. Sesuatu telah terjadi padanya bertahun tahun yang lalu. Kurasa sampai saat ini pun dia belum benar benar sembuh. Karena itulah aku mengirim mu padanya, Andrew."
"Trauma pada apa, kenapa dan bagaimana itu bisa terjadi Jess?" Jess tidak menjawab. Pulsaku habis. Kepalaku berdenyut.
"Kau benar tidak apa apa, Andrew ? Aku mengkhawatirkanmu."
"Aku tidak apa apa Susan." Hanya sedikit takut saat membayangkan kau memukulku dengan stik golf saat aku baru bangun dari tidur ku pagi tadi. Ternyata gadis ini mengerikan.
©©©
Sungguh sulit menanganinya. Aku bisa mengenalinya dengan baik saat ia adalah Susan. Namun saat ia menjadi Susan yang lain, aku bingung harus bagaimana. Aku memanggilnya Clarissa. Berbeda sekali dengan Susan yang ceria dan selalu tersenyum. Kami berbagi cerita. Aku melihatnya selalu tersenyum bahagia. Seakan tak ada satu pun masalah atau cerita masa lalu yang menyakiti nya. Tapi Clarissa, begitu tertutup. Aku pernah melihatnya minum sebotol bir dan bahkan ia menghisap rokok. Sesekali ku lihat ia menangis seorang diri. Ia benar benar terlihat frustasi. Di saat itulah, aku ingin membuatnya merasa nyaman dan membagi masalahnya denganku. Tapi ia selalu menghindar dan menatap ku dengan pandangan dingin yang menusuk. Siapapun orang yang sudah membuatnya seperti ini, aku pasti akan menghajarnya.
©©©
"Ini karena pria itu. Namanya Zack. Susan memergoki ia berkencan dengan wanita lain dua hari sebelum upacara pernikahan mereka berlangsung. Zack mengajak wanita itu ke hotel."
"Tapi wanita lain itu adalah teman Susan. Teman yang sangat baik. Tepatnya, dia teman baik kami. Namanya Trista. Ia langsung melabrak Zack dan Trista. Tanpa sadar ia menampar Trista. Tapi Zack malah melindungi Trista. Zack dan Susan beradu mulut. Kemudian Zack meninggalkan Susan begitu saja. Susan yang sedang kacau berjalan tanpa arah. Kemudian Ia tertabrak sebuah mobil yang berjalan kencang saat ia berniat mengejar Zack. Saat hampir pingsan, ia memanggil Zack. Berharap Zack menolong nya. Tapi Zack tidak peduli. Ia terus meninggalkan Susan yang tengah sekarat."
Susan mengalami koma panjang dan shock. Ia juga tidak mengingat siapapun. Bahkan keluarga nya. "Ia juga tak mengenaliku, Andrew. Adiknya. Ia tidak mengenali keluarganya sama sekali."
Meskipun hanya lewat telepon, aku bisa merasakan Jess si perfeksionis menangis. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Kau gila Jess, kenapa kau mengirimkan ku padanya? Ia hampir melukaiku. Kau bermaksud balas dendam padaku?" "Tadinya. Maafkan aku Andrew. Tapi entah kenapa aku merasa yakin kau bisa membuatnya lebih baik. Kau orang yang tegar, menurutku. Kau juga penyayang. Karena itulah aku menyukaimu. Tapi kau selalu menganggapku hanya sebatas teman. Dan apa yang kau bilang soal sebuah ikatan? Tak ingin terikat? Itu konyol. Tapi aku percaya kau bisa membuat Susan menjadi lebih baik. Sebelumnya ia bisa lebih parah dari ini."
"Tunggu. Kau bilang wanita yang bersama Zack itu bernama Trista? Sepertinya aku mengenalnya." Lebih parahnya, dia sekretarisku. Damn.
"Ya. Itu dia." Baiklah, ada satu hal lagi yang harus ku bereskan.
©©©
Sudah lima belas menit aku berdiri di depan rumah Susan. Tapi tak ada jawaban. "Hei, kau teman Susan kan?" Seorang perempuan yang kira kira sebaya dengan Susan bertanya padaku. Mungkin teman kerja Susan, atau mungkin tetangganya saja. Di daerah ini, Susan memiliki banyak sekali teman. Laki laki ataupun perempuan. Tapi setelah kejadian yang membuat Susan shock itu, kabarnya ia cenderung menutup diri.
"Kemana dia? Kami sudah berjanji akan ke Gilimanuk sore ini tapi ku telepon tidak diangkat. Aku baru saja mau ke rumahnya. Kebetulan kau datang" Aneh juga. Susan harusnya tidak memiliki jadwal bepergian hari ini, kecuali bersama gadis tadi. Aku melihat di jadwal yang ia buat.
Perasaanku menjadi tidak enak. Saat masuk, aku melihat sebotol obat yang ku kenal sebagai obat tidur berdosis tinggi di atas meja. Jantungku seperti berhenti berdetak. Aku segera mencari ke kamar tidur dan kamar mandi. Aku benar benar berhenti bernafas saat melihat Susan di kamar mandi dalam keadaan tak sadarkan diri. Air yang meluap, mulutnya berbusa. Kulitnya pucat. Sekujur tubuhnya dingin. Dan ia memakai kaos singlet yang sangat tipis. Ia sudah tak sadarkan diri berjam jam lalu.
Aku segera mengangkat nya dari bath tub. Meletakkannya di sofa. Mengeringkan tubuhnya. Lalu menyelimutinya dengan selimut tebal. "Tolong Tuhan, tolong jangan biarkan dia mati."
Aku segera menelepon rumah sakit. Meminta ambulance. "Secepatnya, Nona. Kalau tidak, istriku bisa mati."
©©©
Jessie datang lebih cepat dari yang ku bayangkan. Dalam sekejap semua masalah administrasi rumah sakit tuntas olehnya. Ternyata saat berbicara padaku di telepon tadi ia sudah bersiap menuju kemari. Ke Bali. Syukurlah. "Aku tidak menyangka ini akan terjadi pada Susan, Jess. Begitu aku tiba di rumah, aku menemukannya dalam keadaan sudah tidak sadarkan diri. Dan aku menemukan ini." Ia membenamkan wajah di kedua telapak tangannya begitu melihat apa yang ku bawa. "Ini obat tidur dengan dosis tinggi, Andrew. Dia overdosis." Jess menjerit kalut. Tangis nya pecah di dadaku.
Aku memeluknya. Aku mengerti perasaan ini. Rasa kehilangan ini. Perasaan takut kehilangan orang yang kita cintai. Kini aku bisa merasakannya. "Baiklah, Andrew. Tugas mu sudah selesai." Jess melepaskan pelukanku. "Apa maksudmu?"
"Kami akan membawanya ke Jerman, Andrew. Kami menemukan tempat terapi terbaik di sana. Secepatnya kami akan membawanya pergi. Kau tidak akan bertemu dengannya lagi." Ia menghapus air mata di pipinya. Berusaha kuat untuk mengakhiri kalimatnya.
"Tapi aku merasa bahwa aku mencintainya, Jess." Aku merasa tak ada sedikit pun ragu saat mengatakannya. Jessie terlihat seperti sudah mengetahuinya sejak awal. "Kau sudah ku ingatkan untuk tidak jatuh cinta padanya, Andrew. Kau sudah tahu konsekuensi nya. Oh ya, aku sudah mentransfer sejumlah uang ke ATM mu. Karena tugas mu sudah selesai, kau boleh pergi sekarang. Terima kasih, Andrew. Kau sudah menjaganya dengan cukup baik."
Ia segera masuk ke dalam ruangan Susan dirawat saat dokter yang merawat Susan mengizinkannya masuk. Rasa hampa begitu cepat mengaliri syarafku. Tapi ini bukan masalah uang, Jess. Aku tidak akan menyakitinya, aku berjanji.
"Aku pasti akan menemukanmu lagi, Susan. Dan jatuh cinta lagi padamu."
©©©
Tak terasa dua tahun telah berlalu.
Aku mendapat kabar bahwa Susan sedang berada di Aussie. Ia mengambil kursus disana. Sepertinya ia sudah menemukan kembali dirinya. Dan tentang aku, aku sudah mendapatkan kembali bisnis ku. Aku berjuang keras memperbaiki kekacauan yang di lakukan oleh sekretaris ku, Trista. Aku melaporkannya ke kepolisian atas tuduhan penggelapan uang. Ternyata selama ia mengurus bisnisku, ia banyak menggelapkan uang untuk bisa bersenang senang dengan Zack. Pacar gelapnya. Lalu, setelah itu mereka pergi ke luar negeri. Tapi kepolisian sudah mengurus mereka. Ia tak akan bisa lari lagi. Pria itu juga. Pria yang telah membuat Susan tersiksa.
©©©
Dia ada di sini. Di Jakarta. Tapi jakarta adalah tempat yang luas. Dimana aku harus memulai untuk mencarinya? "Dengar, Andrew. Hanya ini yang bisa aku bantu. Selebihnya, kau harus mencarinya sendiri. Jangan bilang aku jahat atau tidak mau membantumu. Harusnya aku bahkan tidak menelepon mu. "
"Baiklah, aku mengerti. Tapi ijinkan aku tahu lebih banyak Jess." Aku mohon. Kau tidak tahu betapa aku merindukannya. "Tidak, Andrew. Itu sudah lebih dari cukup."
©©©
"Pak Andrew. Tamu anda sudah datang". "Baik. Suruh saja dia masuk." Pegawaiku, Sesha memberitahuku kalau Ny. Francesa sudah datang. Ia salah satu klienku yang sangat sulit di temui. Sejak kerja sama kami satu tahun lalu, baru kali ini ia bisa datang dan membicarakan bisnis kami. Aku ingin sekali melihat seperti apa wajah wanita ini. Sepertinya ia wanita yang cantik. Suaranya saat di telepon sangat menarik. Tapi sepertinya dia sudah menikah dan memiliki putra atau putri. Menjadi ibu adalah pekerjaan yang sulit.
"Selamat siang." Wajah itu...
"Silakan duduk Ny. Francesa."
"Sebetulnya aku belum menikah," Paru paruku seakan mengembang. Membuat dadaku sesak. "Baiklah, jadi aku harus memanggilmu apa?"
Suddenly my hearts got beat
"Susan."
Hei Jess, aku telah menemukannya. Dia disini. Saat ini, bersamaku.
Tuhan, terima kasih.
THE END
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar